Tampilkan postingan dengan label baby and toddler. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label baby and toddler. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 Juni 2010

tidak..tidak..tidak..!!!

'TIDAK, GA MAU, NGGAK' akan meluncur dengan fasih dari anak di usia sekitar 18 bulan. kata ini merupakan pernyataan kemandiriannya. ditawari apa saja, jawabannya selalu TIDAK..

penolakan ini sebenarnya tidak berarti anak sungguh-sungguh tidak mau melainkan 'aku mau asalkan dengan caraku sendiri' atau ' aku mau melakukan sendiri'. itu sebabnya anak pada usia ini saat diajak mandi selalu menolak namun ia akan ke kamar mandi bila diijinkan memainkan busa sabun atau berendam dalam bak mandi.selama masa ini anak belajar mengendalikan diri dan ingin melakukan semuanya sendiri.

jangan khawatir bunda, ada cara yang bisa kita lakukan untuk menghadapi masa ini.
a. ubah tuntutan jadi pilihan
tak usah menyeret si kecil ke kamar mandi saat ia berkata 'ga mau mandi bunda'. berikan pilihan ini 'mandi di pancuran atau mandi di bak?'


b. berikan batasan sampai kapan anak boleh mengatakan tidak
misalnya anak rewel saat minum susu. siapkan susu dan katakan padanya 'sebelum tidur susu itu harus habis'


c. tidak menuntut segera
bila anda ingin si kecil mengenakan baju yang pantas saat ke pesta, siapkan baju itu jauh2 hari dan jelaskan betapa bagusnya baju itu bila dipakai.


d. hindari memakai kalimat tanya, ' adik mau makan ga?'
pasti jawabannya tidak! katakan saja' adik mau makan sendiri di meja makan atau bunda temani di meja tinggi?'


e. bubuhkan sentuhan humor
saat si kecil menolak mengenakan baju, ajak si kecil bercermin dan katakan padanya baju ini seperti topi ya? biarkan saja bila ia ingin memainkan bajunya. bila ia bosan, dengan senang hati akan memakai sendiri.

masa ini adalah masa 'adu kekuatan' yang bisa membuat orang tua dan anak sama-sama merasa tidak senang. namun percayalah bunda, ini adalah tahapan anak kita menuju kemandiriannya.. sudah siap memiliki anak yang mandiri? inilah saatnya kita menyiapkan....

Mainan untuk si 1 tahun


Mainan (toy) dan bermain (play) merupakan bagian penting dalam proses pembelajaran mengenal dunia dan tumbuh dewasa. Seorang anak menggunakan mainan untuk menemukan identitas, membantu tubuh menjadi kuat, mempejalari sebab dan akibat, mengembangkan hubungan, dan mempraktekkan kemampuan mereka. Mainan lebih dari sekedar bersenang-senang, karena mainan dapat digunakan untuk mempengaruhi aspek kehidupan. Tetaplah menggunakan mainan yang lama untuk mengenalkan berbagai macam warna dan bentuk kepada anak. Mainan tambahan untuk usia ini dapat berupa:

* aneka puzzle. Mulailah dari yang sangat sederhana, misalnya hanya terdiri dari 4 potong puzzle. Jika ia telah menguasainya Anda dapat memberinya puzzle yang lebih banyak jumlah potongannya

* arena panjat mini. Mainan ini memberi kesempatan anak memanjat, menaiki tangga, meluncur dengan aman sesuai bentuk dan tinggi tubuhnya

* kanvas besar. Keinginan anak mencoret-coret menggunakan krayon dalam genggamannya semakin besar. Anda dapat menempelkan kertas di lantai atau dinding dan memberi kesempatan padanya untuk mencoret-coret sesuka hatinya.

* kendaraan yang dapat ditumpangi. Menaiki kendaraan yang dapat bergerak menjadi pengalaman mengasyikkan si kecil Anda. Di usia ini, anak memang belum bisa diharapkan mengayuh kendaraannya sendiri. Ia memerlukan bantuan Anda untuk mendorong.

* finger paint. Biarkan anak berekspresi dengan tangannya. Ada banyak bahan yang bisa digunakan, bahkan makanan seperti es krim :)


* bergerak mengikuti suatu irama/hitungan. Ajaklah si kecil bertepuk tangan, menggeleng, berputar, melompat dll secara teratur mengikuti irama


* menyebutkan nama benda. Ejakan nama tiap-tiap benda per suku kata agar anak dapat mengikuti. Sertai dengan ekspresi lucu dan khas untuk masing-masing benda agar mudah diingat dan suasana belajar jadi menyenangkan. Misalnya, “ini mo-bil, brum-brum”


* klasifikasi. Libatkan anak saat membereskan mainan atau mengangkat cucian untuk mengenal klasifikasi jenis benda, warna, fungsi dll


* ketrampilan tangan. Beri anak aneka kertas bekas untuk semakin trampil meremas, menyobek, menjepit dll

dari berbagai sumber

Kamis, 03 Juni 2010

Stimulasi Bermain Sejak Dini untuk Kecerdasan Anak

Bermain dengan anak-anak juga merupakan stimulasi. Jangan lupa untuk mengajak anak bermain setiap hari, agar otaknya berkembang sempurna.

Apakah stimulasi bermain sejak dini itu?
Menurut Dr Soedjatmiko, SpA(K), MSi, dokter spesialis anak konsultan tumbuh kembang, stimulasi dini adalah rangsangan bermain yang dilakukan sejak bayi baru lahir. Rangsangan atau stimulasi ini sebaiknya dilakukan sejak janin masih berusia 6 bulan di dalam kandungan.

Mengapa?
Stimulasi dipercaya dapat mempengaruhi pertumbuhan sinaps (proses sinaptogenesis), yang membutuhkan banyak sialic acid untuk membentuk gangliosida, yang penting untuk kecepatan proses pembelajaran dan memori. Rangsangan yang harus dilakukan dengan penuh kegembiraan, kasih sayang, dan setiap hari untuk merangsang semua sistem indera. Selain itu, harus juga merangsang gerak kasar dan halus kaki, tangan, dan jari-jari, mengajak komunikasi, serta merangsang perasaan yang menyenangkan dari pikiran bayi dan balita. Rangsangan yang dilakukan dengan suasana bermain dan kasih sayang, sejak lahir, terus-menerus, dan bervariasi, akan merangsang pembentukan cabang-cabang sel-sel otak, melipatgandakan jumlah hubungan antarsel otak sehingga membentuk sirkuit otak yang lebih kompleks, canggih, dan kuat. Dengan demikian, kecerdasan anak makin tinggi dan bervariasi (multiple intelligence).

Lalu, bagaimana menstimulasi janin yang masih dalam kandungan? Si ibu atau ayahnya bisa melakukannya dengan berbicara dekat perut si ibu, menyanyikan lagu, membaca doa, lagu-lagu keagamaan, sambil mengelus perut si ibu. Dapat pula memperdengarkan lagu dengan menempelkan earphone di perut ibu atau si ibu juga mendengarkan lagunya. Ada sebagian literatur yang mengatakan bahwa mendengarkan lagu klasik baik untuk perkembangan otak anak. Jika memang ingin memperdengarkan lagu klasik pada anak, penting juga untuk si ibu menyukai lagu-lagu tersebut. Sebab, suasana hati si ibu juga bisa memengaruhi si bayi. Stimulasi sebaiknya dilakukan setiap hari, setiap saat ibu bisa berinteraksi dengan janinnya, misal, saat mandi, masak, cuci pakaian, berkebun, dan sebagainya.

Sementara untuk bayi atau balita, stimulasi bisa dilakukan dengan beragam cara sesuai perkembangan usianya, contoh:

Usia 0–3 bulan, berikan rasa nyaman, aman, dan menyenangkan, memeluk, menggendong, menatap mata bayi, mengajak tersenyum, membunyikan suara atau musik, menggerakkan benda berwarna mencolok, benda berbunyi, menggulingkan bayi ke kanan/kiri, tengkurap-telentang, dan dirangsang untuk meraih dan memegang mainan.

Usia 3–6 bulan, bisa dengan bermain “cilukba”, melihat wajah bayi di cermin, dirangsang untuk tengkurap, telentang bolak-balik, duduk.

Usia 6–9 bulan, panggil namanya, salaman, tepuk tangan, bacakan dongeng, rangsang duduk, latih berdiri berpegangan.

Usia 9–12 bulan, mengulang menyebut mama-papa, kakak, masukkan mainan ke dalam wadah, minum dari gelas, gelindingkan bola, latih berdiri, jalan berpegangan.

Usia 12–18 bulan, latihan dengan corat-coret pensil warna, susun kubus, balok-balok, potongan gambar sederhana (puzzle), masukkan dan keluarkan benda kecil dari wadah, main dengan boneka, sendok, piring, gelas, teko, sapu, lap, dan lainnya. Latihlah untuk berjalan tanpa pegangan, jalan mundur, panjat tangga, tendang bola, lepas celana, mengerti dan melakukan perintah-perintah sederhana (mana bola, pegang ini, masukkan ini, ambil itu), sebutkan nama atau menunjukkan benda-benda.

Umur 18–24 bulan, tanyakan, sebutkan, tunjuk bagian-bagian tubuh (mata, hidung, telinga, mulut, dan lainnya), tanyakan gambar atau sebutkan nama binatang dan benda-benda di sekitar rumah, ajak bicara tentang kegiatan sehari-hari (makan, minum, mandi), latihan gambar garis, cuci tangan, pakai baju-celana, main lempar bola, melompat, dan lainnya.

Umur 2–3 tahun, ditambah dengan mengenal dan menyebutkan warna, menggunakan kata sifat (besar-kecil, panas-dingin, tinggi-rendah, banyak-sedikit, dan lainnya), sebutkan nama teman, hitung benda, pakai baju, sikat gigi, main kartu, boneka, masak-masakan, gambar garis, lingkaran, manusia, latihan berdiri di satu kaki, buang air kecil/besar di toilet.

Setelah 3 tahun, selain mengembangkan kemampuan-kemampuan umur sebelumnya, stimulasi ini juga diarahkan untuk kesiapan bersekolah, antara lain; memegang pensil dengan baik, menulis, mengenal huruf dan angka, berhitung sederhana, mengerti perintah sederhana (buang air kecil/besar di toilet), dan kemandirian (ditinggal di sekolah), berbagi dengan teman, dan lain sebagainya. Perangsangan dapat dilakukan di rumah (oleh pengasuh dan keluarga), tetapi dapat pula di kelompok bermain, taman kanak-kanak, atau sejenisnya.

Sumber :
KOMPAS.com Sabtu, 22/8/2009 | 15:52 WIB